BANGBATAK1 BANGBATAK2 BANGBATAK4 BANGBATAK5 BANGBATAK7 BANGBATAK9 BANGBATAK14 BANGBATAK15 BANGBATAK16 BANGBATAK17 BANGBATAK19 BANGBATAK20 BANGBATAK23 BANGBATAK24 BANGBATAK25 BANGBATAK27 BANGBATAK22 BANGBATAK22 BANGBATAK22 BANGBATAK22 BANGBATAK22 BANGBATAK22 BANGBATAK22
BANGBATAK1 BANGBATAK2 BANGBATAK4 BANGBATAK5 BANGBATAK7 BANGBATAK9 BANGBATAK14 BANGBATAK15 BANGBATAK16 BANGBATAK17 BANGBATAK19 BANGBATAK20 BANGBATAK23 BANGBATAK24 BANGBATAK25 BANGBATAK27 BANGBATAK22 BANGBATAK22 BANGBATAK22 BANGBATAK22 BANGBATAK22 BANGBATAK22 BANGBATAK22
PENDAHULUAN – SIDANU

PENDAHULUAN

Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan mati ayahnya selagi ia belum mencapai umur balig. Dalam Islam, anak yatim memiliki kedudukan tersendiri. Demikian pula dengan anak Dhuafa, mereka mendapat perhatian khusus dari Rasulullah SAW. Ini tiada lain demi untuk menjaga kelangsungan hidupnya agar jangan sampai telantar hingga menjadi orang yang tidak bertanggung jawab.

Oleh karena itu, banyak sekali pada Al Qur’an dan hadist yang menyatakan betapa mulianya orang yang mau memelihara anak yatim dan dhuafa. Sayang, anjuran Beliau itu sampai kini belum begitu mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat. Hanya sebagian kecil saja umat Islam yang mau memperhatikan anjuran itu. Hal ini semestinya tidak layak dilakukan umat Islam yang inti ajarannya banyak menganjurkan saling tolong sesama umat Islam dan bahkan selain umat Islam. Di Indonesia, khususnya di desa-desa, sampai sekarang kebiasaan memberi uang ala kadarnya pada tanggal 10 Muharam kepada anak yatim masih berlaku. Pada setiap tanggal 10 Muharam, anak-anak yatim bergerombol-gerombol mendatangi rumah-rumah orang kaya atau para dermawan. Di situ mereka memperoleh pembagian uang. Kebiasaan demikian sungguh amat terpuji, tetapi apakah para anak yatim hanya butuh bantuan sekali itu?

Tentunya tidak. Mereka membutuhkan bimbingan sampai dirinya mampu mengarungi bahtera kehidupannya sendiri. Betapa mulianya orang yang mau berbuat demikian, sebagaimana hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari bersumber dari Sahl bin Sa’ad bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari).

Allah berfirman yang artinya, “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu

makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa besar (QS. An-Nisaa : 2)

Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang suka menyantuni anak yatim; sebagaimana sabda Nabi, “Barang siapa yang menanggung makan dan minum (memelihara) anak yatim dari orang Islam, sampai Allah SWT mencukupkan dia, maka Allah mengharuskan ia masuk surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak terampunkan” (H.R. Turmudzi).

Dari hadist ini, memberikan jaminan bagi orang-orang yang mau mengasuh anak yatim akan memperoleh imbalan pahala dari Allah SWT, berupa surga yang disejajarkan dengan surga Nabi SAW, kecuali ia melakukan dosa-dosa yang tidak terampunkan oleh Allah SWT. Demikianlah kewajiban kita sebagai umat Islam dalam menyantuni anak yatim.

Allah berfirman yang artinya, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Maa’uun : 1-7)

About raihan

Check Also

LATAR BELAKANG

Merenungi hal diatas, maka Yayasan Masjid Jami Nurul Hikmah membuka Divisi atau Lembaga Pembinaan Pendidikan …

Copyright Themes © 2023